Apa Itu Cart Abandonment & Dampaknya bagi Bisnis Online

Apa Itu Cart Abandonment & Dampaknya bagi Bisnis Online

Waktu membaca menit

Update Terakhir 26 Jan 2026

Pernah melihat banyak pengunjung menaruh produk ke keranjang, tapi transaksi tak kunjung selesai? Fenomena inilah yang sering membuat pemilik toko online geleng kepala. Artikel ini akan membahas apa itu cart abandonment, mengapa sering terjadi, dan bagaimana dampaknya bagi bisnis online, berdasarkan praktik nyata di lapangan.

Apa Itu Cart Abandonment?

Cart abandonment adalah kondisi ketika calon pembeli sudah memasukkan produk ke shopping cart, tetapi tidak melanjutkan hingga pembayaran selesai. 

Gambaran paling mudahnya seperti pengunjung supermarket yang sudah mendorong troli penuh, lalu meninggalkannya begitu saja di lorong.

Baca Juga: Cara Top Up Koin TikTok via DANA, GoPay dan Codashop

Dalam praktik bisnis online, cart abandonment bukan sekadar angka statistik. Ia adalah sinyal bahwa ada friksi dalam customer journey ecommerce. Bisa terjadi di tahap awal saat melihat keranjang, bisa juga di tahap akhir ketika pengunjung sudah hampir membayar. 

Selama bertahun-tahun mengamati toko online dari berbagai skala, satu hal yang konsisten terlihat: cart abandonment hampir selalu ada. 

Bedanya, ada bisnis yang mampu menekannya, ada pula yang membiarkannya menjadi “kebocoran” penjualan setiap hari. Setiap keranjang yang ditinggalkan sebenarnya adalah peluang konversi yang hilang.

Baca Juga: Tips Edit & Optimasi WooCommerce Checkout: Konversi Melejit!

Menghitung Cart Abandonment Rate

Jika ditarik ke metrik, cart abandonment rate adalah persentase keranjang belanja yang tidak berujung transaksi dibanding total keranjang yang dibuat.

Rata-rata cart abandonment rate global berada di kisaran 70%. Artinya, dari 10 orang yang memasukkan produk ke keranjang, hanya sekitar 3 yang benar-benar menyelesaikan transaksi.

Rumusnya sederhana:

Cart Abandonment Rate = (Jumlah cart ditinggalkan / Total cart dibuat) × 100

Contoh:
Jika ada 100 keranjang dibuat dan hanya 40 yang berujung pembelian, maka 60 cart ditinggalkan.
Cart Abandonment Rate = (60 / 100) × 100 = 60%

Angka ini bukan untuk ditakuti, tapi untuk dianalisis. Dari sinilah perbaikan dimulai.

Penyebab Cart Abandonment di Bisnis Online

apa itu cart abandonment

Mengapa pengunjung meninggalkan keranjang belanja? Kondisi ini jarang terjadi tanpa alasan. Biasanya ada satu atau dua momen krusial dalam proses belanja yang membuat calon pembeli berpikir ulang, lalu pergi begitu saja. Berikut beberapa penyebab paling umum yang sering ditemui dalam praktik sehari-hari:

Biaya tambahan yang muncul mendadak

Pengunjung sudah merasa cocok dengan harga produk, lalu di halaman checkout muncul ongkir, pajak, atau biaya lain yang sebelumnya tidak terlihat. Situasi ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan dianggap kurang transparan. Banyak calon pembeli akhirnya memilih menunda atau membatalkan transaksi.

Wajib membuat akun

Di tahap akhir, fokus pengunjung hanya satu: segera bayar. Ketika sistem memaksa registrasi akun, alurnya langsung terputus. Untuk sebagian orang, ini terasa merepotkan dan memakan waktu, apalagi jika hanya ingin belanja sekali.

Pengiriman terlalu lama

Dalam konteks perilaku belanja online saat ini, kecepatan pengiriman menjadi faktor penting. Estimasi yang terlalu lama sering membuat pengunjung membandingkan dengan toko lain yang menawarkan opsi lebih cepat.

Masalah kepercayaan

Tampilan website yang kurang profesional, tidak ada SSL, atau kebijakan retur yang samar memunculkan keraguan. Saat menyangkut data dan pembayaran, rasa aman sangat menentukan keputusan.

Proses checkout terlalu panjang

Form yang terlalu banyak dan langkah yang berlapis membuat pengunjung kehilangan momentum. Semakin sederhana alurnya, semakin besar peluang checkout conversion rate meningkat.

Dampak Cart Abandonment bagi Bisnis Online

Cart abandonment tidak bisa disebut transaksi gagal. Meski demikian, dampaknya bisa merembet ke banyak aspek bisnis online, mulai dari performa penjualan sampai persepsi brand di mata pelanggan. 

Dampak Langsung

Cart abandonment bisa berdampak langsung di operasional harian, terutama jika dibiarkan terus-menerus. 

  • Kehilangan pendapatan instan
    Setiap shopping cart yang ditinggalkan adalah transaksi yang hampir terjadi. Jika nilai produk cukup besar, kamu bisa langsung merasakan “bolongnya” omzet, meskipun trafik terlihat ramai.
  • Biaya pemasaran meningkat
    Untuk mengejar calon pembeli yang pergi, bisnis biasanya mengandalkan email pengingat atau iklan retargeting. Strategi ini memang membantu, tapi konsekuensinya jelas: biaya pemasaran ikut naik.
  • Penurunan conversion rate
    Tingginya cart abandonment membuat checkout conversion rate terlihat buruk. Ini sering menjadi tanda bahwa ada friksi di funnel penjualan yang perlu segera dibenahi.
  • Margin keuntungan tergerus
    Diskon sering dipakai sebagai jalan pintas agar pembeli kembali. Dalam jangka pendek efektif, tetapi jika terlalu sering, margin keuntungan perlahan terkikis.
  • ROI digital marketing menurun
    Biaya akuisisi sudah dikeluarkan, tetapi transaksi gagal. Akibatnya, ROI dari kampanye digital marketing tidak maksimal.
  • Nilai pelanggan jangka panjang menurun
    Pengalaman checkout yang gagal berulang kali membuat calon pelanggan enggan kembali, sehingga customer lifetime value ikut turun.

Dampak Tidak Langsung

Selain efek finansial, ada dampak jangka panjang yang sering luput disadari. 

  • Citra brand ikut terpengaruh
    Checkout yang ribet atau tidak meyakinkan perlahan membentuk persepsi negatif terhadap brand, meski produknya bagus.
  • Peluang personalisasi terlewat
    Tanpa analisis cart abandonment, bisnis kehilangan kesempatan memahami perilaku belanja online pelanggan secara lebih dalam.
  • Masalah performa website
    Angka abandonment yang tinggi sering berkaitan dengan website lambat atau error di momen krusial.
  • Erosi kepercayaan pelanggan
    Sekali kepercayaan menurun, butuh usaha lebih besar untuk membangunnya kembali. Dan di bisnis online, kepercayaan adalah fondasi utama.

12 Tips Mengurangi Cart Abandonment Rate

apa itu cart abandonment

Setelah memahami penyebab dan dampaknya, langkah berikutnya adalah action. Kabar baiknya, cart abandonment bisa ditekan dengan strategi yang tepat, tanpa kamu harus mengubah seluruh sistem bisnis online. 

#1. Sederhanakan Proses Checkout

Checkout yang panjang memutus momentum beli. Pangkas field yang tidak penting, aktifkan guest checkout, dan gunakan autofill. Contoh sederhana: cukup minta nama, alamat, dan kontak, data lain bisa menyusul setelah transaksi.

#2. Perluas dan Amankan Opsi Pembayaran

Pembeli pasti punya preferensi berbeda. Selain transfer dan kartu kredit, tambahkan e-wallet populer atau solusi paylater (BNPL). Pastikan SSL aktif dan logo keamanan tampil jelas agar calon pembeli merasa aman saat membayar.

#3. Transparan Sejak Awal Soal Harga

Tampilkan estimasi ongkir dan pajak di halaman produk atau keranjang. Misalnya, beri keterangan “gratis ongkir minimal Rp300 ribu” agar ekspektasi pembeli tidak patah di checkout.

#4. Manfaatkan Email Pengingat Cart

Email pengingat efektif jika tepat waktu. Kirim pengingat ringan satu jam setelah cart ditinggalkan, lalu susulan keesokan harinya. Sertakan foto produk dan tombol checkout yang jelas.

#5. Gunakan Exit-Intent Popup

Saat kursor mengarah keluar, tampilkan popup sederhana. Bukan selalu diskon, bisa juga pesan bantuan seperti “Ada yang bisa dibantu sebelum checkout?”

#6. Optimalkan Pengalaman Mobile

Pastikan tombol cukup besar, form mudah diisi, dan halaman cepat terbuka. Banyak cart ditinggalkan hanya karena checkout mobile terasa ribet atau lambat.

#7. Bangun Kepercayaan di Halaman Checkout

Tampilkan kebijakan retur, kontak customer service, dan testimoni singkat. Hal kecil ini sering menjadi penenang di detik-detik terakhir sebelum bayar.

#8. Sediakan Live Chat atau Chat Otomatis

Pertanyaan sepele seperti ukuran, stok, atau metode kirim sering menghambat transaksi. Live chat membantu menghilangkan keraguan sebelum pembeli pergi.

#9. Berikan Insentif Secara Terukur

Diskon bisa efektif jika digunakan selektif. Contohnya, berikan voucher hanya pada cart bernilai tertentu atau pembeli yang hampir checkout, bukan ke semua pengunjung.

#10. Jalankan Retargeting Ads

Ingatkan kembali produk yang ditinggalkan lewat iklan di media sosial. Tampilkan visual produk dan pesan sederhana agar tetap relevan tanpa terasa mengganggu.

#11. Perbaiki Navigasi dan Kecepatan Website

Pastikan tombol “Checkout” mudah ditemukan dan halaman tidak lambat. Kecepatan website sering jadi faktor krusial yang tidak disadari.

#12. Tampilkan Social Proof

Review, rating, dan label “produk terlaris” membantu meyakinkan pembeli. Bukti nyata dari pelanggan lain sering lebih ampuh daripada klaim promosi.

Kesimpulan

Cart abandonment adalah realitas yang harus kamu hadapi dalam bisnis online, tapi ini bukan tanda bisnis kamu gagal atau tidak bisa konversi. Yang membedakan adalah bagaimana bisnis meresponsnya. 

Dengan memahami apa itu cart abandonment, penyebabnya, serta dampaknya terhadap customer journey ecommerce, kamu bisa mengambil langkah yang lebih strategis untuk meningkatkan checkout conversion rate.

Langkah awalnya sering kali bukan di promosi, melainkan di fondasi: website yang cepat, aman, dan mudah digunakan. Jika ingin membangun atau mengoptimalkan toko online tanpa ribet teknis, Jasa Pembuatan Website dari IDwebhost bisa menjadi solusi awal yang fleksibel dan scalable. 

Website yang tepat akan membantu perjalanan bisnis online berjalan lebih mulus sejak keranjang pertama hingga transaksi terakhir.