BNPL: Memudahkan Konsumen, tapi Amankah bagi Bisnis?
Buy Now Pay Later (BNPL) adalah metode pembayaran yang makin sering muncul di halaman checkout bisnis online Indonesia. Di satu sisi terlihat memudahkan konsumen, di sisi lain memunculkan pertanyaan penting: apakah paylater benar-benar aman dan menguntungkan bagi bisnis? Artikel ini membahasnya secara realistis dan praktis.

Definisi Buy Now Pay Later (BNPL)
Dalam konteks Indonesia, Buy Now Pay Later (BNPL) bukan sekadar tren global yang ikut-ikutan. Skemanya sudah beradaptasi dengan perilaku konsumen lokal yang cenderung mobile-first dan sensitif terhadap harga.
Buy Now Pay Later (BNPL) adalah metode pembayaran digital yang memungkinkan konsumen membeli produk atau layanan sekarang, lalu membayarnya belakangan.
Baca Juga: Apa Itu Meta Pay? Begini Fungsi dan Manfaat Menggunakannya
Di Indonesia, skema ini umumnya berbentuk cicilan pendek tanpa kartu kredit, dengan tenor mulai dari 14 hari hingga beberapa bulan, tergantung kebijakan provider BNPL.
Dalam praktiknya, konsumen tidak perlu melunasi pembayaran di awal. Sebagai contoh, produk senilai Rp1 juta bisa dibayar dalam empat kali cicilan tanpa bunga. Untuk konsumen, ini terasa ringan. Untuk bisnis, skema ini sering kali berdampak langsung pada kenaikan konversi.
BNPL berkembang pesat di ekosistem e-commerce, ritel, hingga layanan digital. Banyak bisnis online memanfaatkan metode pembayaran paylater untuk menurunkan hambatan transaksi, terutama bagi segmen pelanggan muda yang sensitif terhadap harga di awal checkout.
Baca Juga: Setting Pembayaran TikTok Shop: Panduan Lengkap 2025!
Yang sering luput disadari, dari sisi merchant sebenarnya proses pembiayaan tidak ditangani sendiri. Provider BNPL bertugas melakukan penilaian risiko, mengatur cicilan, hingga menagih pembayaran ke konsumen. Bisnis menerima dana di muka (dikurangi fee), mirip seperti transaksi kartu kredit, sehingga tetap bisa fokus ke operasional dan pertumbuhan.
BNPL vs Kartu Kredit
Meski sama-sama menunda pembayaran, BNPL dan kartu kredit punya karakter berbeda:
- BNPL: cicilan jangka pendek, nominal tetap, sering tanpa bunga, approval ringan, tapi terbatas pada merchant tertentu.
- Kartu kredit: fleksibel untuk berbagai transaksi, sistem revolving, ada bunga jika tidak lunas, dan cakupannya jauh lebih luas.
Bagi bisnis online, BNPL sering terasa lebih “ramah” bagi konsumen baru yang belum punya kartu kredit atau enggan menggunakannya.
Memahami Cara Kerja Buy Now Pay Later

Dari sudut pandang bisnis, BNPL bukan sekadar “tambah metode pembayaran”. Ada alur teknis dan strategis yang perlu dipahami.
Pertama, merchant (penjual) bekerja sama dengan provider BNPL dan mengintegrasikannya ke sistem checkout. Opsi paylater biasanya ditampilkan sejajar dengan kartu kredit, transfer bank, atau e-wallet. Berdasarkan pengalaman, menampilkan BNPL sejak halaman produk, bukan hanya di checkout, terbukti meningkatkan niat beli.
Saat konsumen memilih BNPL, provider akan melakukan soft credit check. Proses ini cepat dan tidak mengganggu pengalaman pengguna. Jika disetujui, konsumen membayar cicilan awal, sementara sisanya dicicil sesuai tenor.
Yang sering disalahpahami: bisnis tidak perlu menagih cicilan. Merchant menerima pembayaran penuh di awal (setelah dipotong fee sekitar 2–8%), dan seluruh urusan penagihan ditangani provider. Inilah alasan banyak bisnis online tertarik, karena arus kas tetap aman.
Namun, pengalaman juga mengajarkan bahwa memilih provider asal-asalan bisa berujung masalah, mulai dari dashboard laporan yang tidak transparan sampai dispute yang lambat ditangani.
Apakah Paylater Menguntungkan bagi Bisnis?
Jawaban singkatnya: bisa sangat menguntungkan, jika diterapkan dengan strategi yang tepat. Berikut manfaat BNPL bagi bisnis yang paling sering terasa di lapangan.
Meningkatkan Penjualan dan Conversion Rate
Salah satu kesalahan umum pebisnis adalah mengira harga mahal selalu jadi penyebab utama cart abandonment. Kenyataannya, sering kali masalahnya ada di “beban bayar di depan”.
BNPL memecah beban itu menjadi cicilan, sehingga keputusan beli terasa lebih ringan. Dampaknya, checkout completion meningkat dan penjualan ikut terdorong (conversion rate).
Menjangkau Segmen Pelanggan Baru
Metode pembayaran paylater sangat populer di kalangan Gen Z dan milenial. Bagi bisnis online yang menyasar segmen ini, BNPL bukan lagi fitur tambahan, melainkan ekspektasi. Tanpa opsi tersebut, brand bisa terlihat kurang relevan.
Membangun Loyalitas Pelanggan
Kemudahan pembayaran menciptakan rasa aman. Konsumen cenderung kembali ke brand yang memberi fleksibilitas tanpa ribet. Dalam jangka panjang, ini berdampak pada repeat order dan customer lifetime value yang lebih sehat.
Menjaga Arus Kas Tetap Stabil
Meski konsumen mencicil, bisnis tetap menerima dana di awal. Dengan catatan memilih provider BNPL yang kredibel, sistem ini membantu menjaga likuiditas tanpa harus menunggu pembayaran bertahap dari pelanggan.
Pro dan Kontra jika Bisnis Menerapkan Paylater

Tidak ada sistem pembayaran yang benar-benar bebas risiko, termasuk BNPL. Dari pengalaman di lapangan, metode ini bisa menjadi akselerator pertumbuhan, tapi juga berpotensi menimbulkan masalah jika diterapkan tanpa persiapan matang. Di sinilah pentingnya melihat dua sisi secara seimbang.
Kelebihan:
- Mendorong penjualan dan konversi, karena konsumen merasa beban pembayaran lebih ringan dan berani checkout lebih cepat.
- Menarik pasar yang lebih luas, terutama pelanggan muda yang terbiasa dengan metode pembayaran digital dan fleksibel.
- Arus kas relatif aman, sebab bisnis tetap menerima dana di awal dari provider BNPL.
Kekurangan:
- Potongan fee dapat menekan margin, terutama jika produkmu sudah bermain di harga ketat.
- Ketergantungan pada stabilitas provider BNPL, baik dari sisi sistem maupun kebijakan.
- Risiko reputasi, karena saat konsumen bermasalah dengan cicilan, keluhan sering kali justru ditujukan ke bisnismu.
Jika kamu memilih BNPL, pastikan komunikasinya jelas sejak awal. Edukasi yang transparan sering kali menjadi pembeda antara sistem yang membantu dan yang justru menimbulkan masalah.
Kapan Bisnismu Perlu Menerapkan BNPL?
BNPL paling efektif untuk bisnis dengan nilai transaksi menengah ke atas, atau yang ingin menaikkan average order value. Produk digital, fashion, gadget, hingga layanan berbasis langganan sering merasakan dampak positifnya.
Namun, tidak semua bisnis wajib ikut tren. Untuk produk bernilai sangat rendah, fokus menaikkan volume penjualan kadang lebih relevan daripada menambah metode cicilan.
Selain itu, demografi pelanggan juga berpengaruh. Audiens usia 18–45 tahun cenderung lebih responsif terhadap paylater dibandingkan segmen yang lebih senior.
Intinya, BNPL bukan solusi instan, melainkan alat strategis yang harus disesuaikan dengan model bisnis dan perilaku pelanggan.
Kesimpulan
BNPL memang memudahkan konsumen dan bisa menjadi pendorong pertumbuhan bisnis online, tetapi penerapannya perlu perhitungan matang.
Memahami cara kerja, biaya, serta risiko bisnis menerapkan paylater akan membantumu mengambil keputusan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Agar sistem pembayaran, checkout, dan performa website berjalan optimal, fondasi digitalnya juga harus kuat. Untuk membangun website personal brand atau bisnis yang stabil, cepat, dan aman, layanan VPS Murah dari IDwebhost bisa menjadi pilihan tepat sebagai langkah awal pertumbuhan jangka panjang.