Sistem Storage IPFS: Apa Itu, Cara Kerja & Manfaatnya
Belakangan, banyak yang bertanya apa itu sistem storage IPFS dan kenapa teknologinya sering disebut sebagai masa depan internet. Artikel ini akan membahas IPFS secara praktis: mulai dari konsep dasarnya, cara kerja, hingga manfaat nyata yang relevan untuk kebutuhan website dan data modern.

Pengertian IPFS
IPFS adalah singkatan dari InterPlanetary File System. Meski namanya terdengar futuristik, tujuan IPFS justru sangat membumi, yaitu mengatasi keterbatasan sistem penyimpanan dan distribusi data di web saat ini.
Secara sederhana, IPFS adalah storage system yang terdistribusi untuk menyimpan dan mengakses file, website, aplikasi, serta data tanpa bergantung pada satu server pusat.
Baca Juga: Kupas Tuntas Ceph: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh Juan Benet pada tahun 2014 dan kini dikelola oleh Protocol Labs bersama komunitas open-source global.
Berbeda dengan web tradisional yang mengandalkan model client-server (HTTP), IPFS membangun peer-to-peer network. Artinya, data tidak lagi diambil dari satu lokasi server tertentu, tetapi dari banyak node (komputer) yang memiliki salinan data tersebut.
Pendekatan ini membawa perubahan besar cara kita memahami internet. Pada IPFS, yang dicari bukan “dimana file disimpan”, melainkan “apa isi file tersebut”.
Baca Juga: Pemulihan Akun Gmail 2025: Cara Jitu Tanpa Nomor HP & Email!
Prinsip Dasar IPFS
Agar lebih mudah dipahami, berikut prinsip utama yang menjadi fondasi IPFS:
- Content addressing
File diidentifikasi berdasarkan isi (hash kriptografi), bukan lokasi. File yang sama akan selalu memiliki alamat yang sama. - Desentralisasi
Tidak ada server pusat. Data tersebar di banyak node sehingga lebih tahan gangguan. - Peer-to-peer network
Pengambilan data bisa dari banyak sumber sekaligus, mirip BitTorrent. - Permanensi data
Selama masih ada node yang menyimpan data, file tetap bisa diakses. - Versioning
IPFS mampu melacak versi data, konsepnya serupa dengan Git.
Kombinasi prinsip ini membuat IPFS lebih tahan sensor, minim single point of failure, dan efisien untuk distribusi data skala besar.
Cara Kerja Sistem Storage IPFS

Untuk memahami kenapa IPFS disebut sebagai sistem storage generasi baru, kamu perlu melihat cara kerjanya dari sudut pandang data, bukan server. IPFS memperlakukan file layaknya “identitas digital”, bukan hanya file yang disimpan di satu lokasi.
Berikut alur kerjanya secara utuh dan praktis:
#1. File Dipecah Menjadi Block Data
Saat kamu mengunggah file ke IPFS, sistem akan membaginya menjadi beberapa block. Cara ini membuat file lebih mudah didistribusikan dan diambil dari banyak sumber sekaligus, terutama saat ukurannya besar.
Prinsip ini mirip cara kerja torrent, tetapi dengan struktur data yang jauh lebih rapi dan terverifikasi.
#2. Setiap Block Diberi Hash Kriptografi
IPFS menggunakan algoritma kriptografi untuk menghasilkan hash unik pada tiap block. Hash ini berfungsi sebagai penanda keaslian data.
Jika ada perubahan sekecil apa pun, hash akan langsung berbeda. Di tahap ini, integritas data sudah terjaga otomatis.
Inilah fondasi utama kenapa IPFS sering dipakai untuk data yang butuh keaslian tinggi.
#3. Penyusunan Data dengan Merkle DAG
Semua block yang sudah di-hash akan disusun dalam struktur bernama Merkle Directed Acyclic Graph. Dari sinilah terbentuk root hash yang dikenal sebagai Content Identifier (CID). CID inilah yang menjadi “alamat” file di IPFS.
CID bisa dianggap sebagai “DNA file”:
- Tidak bergantung lokasi penyimpanan
- Berlaku sama di seluruh jaringan
- Unik untuk setiap versi file
#4. Content Addressing: Mencari Berdasarkan Isi
Berbeda dengan storage system konvensional yang mencari file berdasarkan alamat server, IPFS menggunakan content addressing. Artinya, kamu tidak lagi bergantung pada satu server.
Jika ada banyak node menyimpan salinan data yang sama, semuanya valid. IPFS hanya akan mengambil block yang hash-nya cocok dengan CID.
Pendekatan ini membuat sistem jauh lebih aman dan konsisten.
#5. Distribusi Data di Peer-to-Peer Network
Setelah file masuk ke IPFS, data akan tersebar ke berbagai node dalam peer-to-peer network. Setiap node bisa:
- Menyimpan block data
- Membagikan block ke node lain
- Melakukan pinning agar data tetap tersedia
Tidak ada server pusat. Semakin banyak node menyimpan data, semakin kuat dan cepat sistem bekerja.
#6. Pengambilan File Menggunakan CID
Saat seseorang mengakses file menggunakan CID, IPFS akan:
- Mencari node terdekat yang memiliki block data
- Mengunduh block dari beberapa node sekaligus
- Memverifikasi setiap block menggunakan hash
- Menyusun ulang file secara lokal
Dengan mekanisme ini, IPFS menghadirkan sistem storage yang lebih tahan gangguan, transparan, dan relevan untuk kebutuhan website modern.
Berikut ini bagan yang memvisualisasikan cara kerja IPFS:

Content Addressing vs Location Addressing
Salah satu pembeda paling penting antara IPFS dan web konvensional (HTTP) ada pada cara sistem menemukan data. Selama ini, HTTP mengandalkan location addressing. Sebaliknya, IPFS mengambil pendekatan berbeda melalui content addressing.
Perbedaan paling revolusioner antara IPFS dan HTTP terletak di metode pengalamatan data.
- Location addressing (HTTP)
Saat kamu mengakses sebuah URL, browser sebenarnya meminta data dari alamat server tertentu. Masalahnya, ketika server bermasalah atau konten dipindahkan, link berpotensi rusak. - Content addressing (IPFS)
Data dicari berdasarkan isinya, bukan lokasinya. Jadi, yang dicocokkan adalah identitas file, bukan alamat server tempat file berada.
Implikasi dari pendekatan IPFS ini cukup signifikan:
- File yang sama di banyak tempat tetap punya satu alamat
- Data bisa diverifikasi keasliannya
- Konten tidak bisa diubah diam-diam
- Ketergantungan pada server tunggal berkurang drastis
Bagi pengelola website dan praktisi digital, model ini menghadirkan stabilitas dan keandalan data yang sulit dicapai oleh sistem berbasis lokasi.
Komponen Utama IPFS
Di balik cara kerja IPFS, ada beberapa komponen penting yang saling terhubung. Tanpa memahami bagian ini, sulit melihat kenapa IPFS bisa berjalan stabil tanpa server pusat.
- Distributed Hash Table (DHT)
DHT berfungsi sebagai direktori terdesentralisasi. Saat kamu mencari sebuah file, DHT membantu menemukan node mana yang menyimpan block data tersebut. - BitSwap
BitSwap adalah mekanisme pertukaran data antar node. Sistem ini memungkinkan pengambilan block dari banyak sumber secara paralel, sehingga proses unduh lebih cepat dan efisien. - Merkle DAG
Struktur ini digunakan untuk menyusun dan menghubungkan block data. Keunggulannya, IPFS bisa menghindari penyimpanan data ganda dan mendukung versioning secara alami. - IPNS (InterPlanetary Name System)
IPNS berfungsi sebagai penunjuk dinamis. Saat konten berubah, IPNS memungkinkan kamu tetap menggunakan satu alamat yang konsisten. - Libp2p
Libp2p mengatur koneksi, komunikasi, dan penemuan peer. Inilah fondasi jaringan yang membuat IPFS benar-benar berjalan sebagai peer-to-peer network.
Contoh Penggunaan Sistem Storage IPFS

Dalam praktik nyata, IPFS sangat efektif untuk beberapa skenario berikut:
Distribusi Konten
IPFS sangat efektif untuk menyebarkan file berukuran besar atau konten yang sering diakses. Karena data bisa diambil dari banyak node sekaligus, beban tidak menumpuk di satu server. Ini membantu menjaga performa tetap stabil saat trafik meningkat.
Arsip dan Preservasi Data
Karena menggunakan content addressing, IPFS cocok untuk menyimpan arsip jangka panjang. Selama masih ada node yang menyimpan data tersebut, konten tetap bisa diakses. Pendekatan ini banyak dimanfaatkan untuk menjaga data publik agar tidak mudah hilang.
Decentralized Applications (dApps)
Dalam ekosistem Web3, IPFS sering digunakan sebagai storage layer untuk aplikasi terdesentralisasi. Data disimpan di luar blockchain agar lebih efisien, namun tetap terverifikasi.
Jaringan Tahan Gangguan
Di area dengan internet tidak stabil, IPFS memungkinkan berbagi konten lokal tanpa selalu bergantung pada koneksi pusat, sehingga akses data tetap berjalan lebih efisien.
NFT Metadata Hosting
IPFS juga populer untuk menyimpan metadata dan aset NFT. Struktur datanya memastikan konten tidak berubah setelah dipublikasikan.
Kesimpulan
IPFS bukan sekadar teknologi eksperimental, melainkan solusi nyata untuk tantangan penyimpanan dan distribusi data modern.
Dengan pendekatan peer-to-peer network, content addressing, dan arsitektur terdesentralisasi, sistem storage IPFS menawarkan keandalan dan efisiensi yang sulit ditandingi sistem konvensional.
IPFS membuka cara baru dalam mengelola storage system berbasis peer-to-peer network. Namun, agar IPFS bisa diimplementasikan secara optimal, dibutuhkan server dengan kontrol penuh.
Layanan VPS Murah dari IDwebhost menjadi fondasi ideal untuk menjalankan node IPFS secara stabil, aman, dan fleksibel sesuai kebutuhan website maupun eksperimen teknologi terdesentralisasi.