Website Sulit Dipakai? Ini 5 Tandanya yang Sering Diabaikan
Pernah masuk ke sebuah toko, tahu barang yang dicari, tetapi bingung harus ke mana? Pengalaman serupa bisa terjadi di website. Navigasi yang membingungkan membuat pengunjung ragu, lalu pergi sebelum menemukan informasi yang mereka cari. Navigasi website sendiri adalah sistem menu, link, dan tombol yang membantu pengunjung berpindah antarhalaman.
Kalau mendengar kata “navigasi website”, mungkin yang langsung terbayang adalah daftar menu di bagian atas halaman: Beranda, Tentang Kami, Layanan, Blog, Kontak.
Padahal, cakupannya lebih luas.
Navigasi adalah seluruh “petunjuk jalan” yang membantu pengunjung memahami mereka sedang berada di mana dan harus pergi ke mana berikutnya. Link dalam sebuah artikel, tombol CTA, breadcrumb, search bar, sampai menu footer semuanya bisa menjadi bagian dari navigasi.
Coba bayangkan kamu sedang mengunjungi website sebuah jasa desain. Kamu tertarik menggunakan jasanya dan ingin tahu harganya. Idealnya, dari homepage kamu bisa menemukan halaman layanan atau pricing dengan cepat.
Kalau ternyata harus membuka menu, lalu masuk ke kategori tertentu, mencari-cari link kecil di tengah halaman, lalu kembali lagi karena ternyata salah halaman, ada yang perlu dievaluasi.
Baca Juga: Sitemap Sudah Submit, Kenapa Blog Tidak Muncul di Google?
Di sinilah UI/UX website mengambil peran kunci. Website bukan hanya harus terlihat bagus, tetapi juga harus terasa masuk akal ketika digunakan.
Navigasi yang jelas membantu pengunjung menemukan informasi tanpa banyak berpikir. Di sisi lain, struktur website yang rapi juga membantu mesin pencari memahami hubungan antarhalaman melalui internal link dan struktur halaman yang logis.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi, “Apakah website ini kelihatan profesional?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah orang yang baru pertama kali datang bisa menggunakannya tanpa bertanya?”
Kalau jawabannya belum yakin, coba cek lima tanda berikut.
Baca Juga: 8 Trik Claude Skills Bangun UI/UX Web: Kaget Lihat Hasilnya!

#1. Bounce Rate Tinggi di Halaman Tertentu
Pernah melihat satu halaman di Google Analytics yang bounce rate-nya jauh lebih tinggi dibanding halaman lain?
Jangan buru-buru panik. Bounce rate tinggi tidak otomatis berarti website kamu buruk. Ada banyak penyebab seseorang meninggalkan halaman tanpa melanjutkan ke halaman lain.
Namun, angka tersebut bisa menjadi sinyal awal masalah usability yang layak diperiksa.
Misalnya, homepage kamu mendapat ribuan kunjungan, tetapi banyak pengunjung langsung pergi. Coba lihat halaman tersebut dari perspektif orang yang baru pertama kali datang.
Apakah mereka langsung tahu website ini menawarkan apa?
Apakah mereka tahu harus klik apa berikutnya?
Apakah tombol menuju layanan atau produk mudah ditemukan?
Kalau jawabannya tidak, navigasi mungkin ikut berperan.
Daripada langsung melakukan redesign seluruh website, mulai dari data yang ada. Cek halaman dengan bounce rate atau exit rate tinggi, lalu lihat jalur yang seharusnya ditempuh pengunjung.
Coba audit tiga halaman dengan traffic tertinggi minggu ini. Kadang, masalah kecil di satu halaman bisa memberikan petunjuk besar tentang pengalaman pengguna secara keseluruhan.
#2. Struktur Menu Terlalu Rumit atau Bertumpuk
Ada website yang menu utamanya terlihat seperti daftar isi sebuah buku.
Begitu kursor diarahkan ke satu menu, muncul submenu. Masuk ke submenu, muncul submenu lagi. Belum selesai memilih, ada pilihan lain yang ikut muncul.
Secara teknis mungkin semuanya berfungsi. Tapi bagi pengunjung, ini bisa terasa melelahkan.
Terlalu banyak pilihan membuat orang harus bekerja lebih keras untuk menentukan pilihan yang tepat. Apalagi jika istilah yang digunakan bukan istilah yang biasa mereka pakai.
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menyusun menu berdasarkan struktur internal perusahaan, bukan berdasarkan kebutuhan pengunjung.
Misalnya, perusahaan punya beberapa divisi internal dan semuanya ingin dimasukkan ke navigasi. Padahal, pengunjung mungkin hanya ingin tahu tiga hal: apa layanannya, berapa harganya, dan bagaimana cara menghubungi bisnis tersebut.
Karena itu, saat menyusun struktur halaman website, tanyakan:
“Pengunjung datang ke sini sebenarnya ingin melakukan apa?”
Kelompokkan menu berdasarkan kebutuhan tersebut. Buat navigasi sesederhana mungkin dan gunakan submenu hanya ketika memang diperlukan.
#3. Informasi Penting Butuh Terlalu Banyak Klik
Sekarang coba lakukan satu eksperimen sederhana.
Buka homepage website kamu dan cari halaman Kontak.
Hitung berapa kali kamu harus mengeklik sampai benar-benar menemukan informasi kontak.
Lakukan hal yang sama untuk halaman harga, layanan, produk, atau informasi penting lainnya.
Kalau jawabannya sampai empat, lima, atau bahkan lebih banyak klik, jalurnya mungkin terlalu panjang.
Ada konsep yang sering disebut 3-click rule, yaitu aturan pengguna seharusnya dapat informasi penting dalam 3 klik pertama. Memang bukan aturan mutlak di website, tetapi cukup berguna sebagai patokan awal saat mengevaluasi navigasi.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar jumlah kliknya. Perhatikan juga apakah setiap langkah terasa logis.
Contohnya:
Homepage → Layanan → Web Development → Harga
terasa cukup masuk akal.
Sebaliknya, jika pengguna harus masuk ke halaman Tentang Kami terlebih dahulu hanya untuk menemukan daftar layanan, struktur tersebut mungkin perlu dipikirkan kembali.
Tujuannya sederhana: jangan membuat pengunjung menebak-nebak jalan.
#4. Nama Link dan Label Menu Tidak Jelas
Ini masalah kecil yang dampaknya bisa cukup besar.
Kamu mungkin merasa label seperti “Solusi Kami”, “Eksplorasi”, atau “Mulai Perjalanan” terdengar lebih menarik daripada “Layanan”, “Blog”, atau “Kontak”.
Namun, coba lihat dari perspektif pengunjung baru.
Mereka belum mengenal bisnis kamu. Mereka tidak tahu istilah internal yang digunakan. Kalau harus menebak arti sebuah menu sebelum mengekliknya, berarti ada friction dalam user flow website.
Untuk navigasi, gunakan label yang langsung menjelaskan isinya jika memungkinkan.
Layanan lebih mudah dipahami daripada “Solusi Kami”.
Harga lebih jelas daripada “Paket Pilihan”.
Kontak lebih familiar daripada “Mari Terhubung”.
Hal lain yang jangan dilupakan: pastikan semua link benar-benar berfungsi.
Broken link, halaman 404, atau tombol yang tidak melakukan apa-apa bisa membuat pengunjung kehilangan arah sekaligus mengurangi rasa percaya terhadap website.
#5. Pengunjung Terus Menanyakan Hal yang Sama
Nah, tanda yang satu ini justru sering datang langsung dari pelanggan.
Coba ingat pertanyaan yang paling sering masuk melalui WhatsApp, email, DM, atau saat discovery call.
“Berapa harganya?”
“Layanannya mencakup apa saja?”
“Cara pesan bagaimana?”
“Lokasinya di mana?”
Kalau pertanyaan yang sama terus muncul, coba jangan hanya melihatnya sebagai pertanyaan pelanggan.
Bisa jadi website kamu belum berhasil memberikan jawabannya dengan cara yang mudah ditemukan.
Informasinya mungkin memang ada. Tetapi apakah pengunjung tahu harus mencarinya di mana?
Periksa kembali halaman FAQ, layanan, produk, atau kontak. Pastikan informasi penting tidak tersembunyi jauh di dalam website.
Kalau website sudah cukup besar, search bar juga bisa membantu. Pengunjung tidak selalu ingin menjelajahi seluruh menu hanya untuk menemukan satu informasi.

Belum perlu langsung memanggil developer dan meminta redesign total.
Mulai dengan audit usability website sederhana. Luangkan waktu sekitar 15–30 menit untuk melakukan checklist berikut:
- Coba masuk dari homepage dan temukan tiga halaman terpenting.
- Minta orang di luar tim mencoba mencari informasi tertentu tanpa diberi petunjuk.
- Cek bounce rate dan exit page di analytics.
- Klik beberapa link penting untuk memastikan tidak ada broken link.
- Periksa apakah menu mudah digunakan dari smartphone.
- Gunakan search bar jika website punya banyak konten.
- Tambahkan breadcrumb jika struktur situs cukup dalam.
Bagian “minta orang lain mencoba” mungkin terdengar sepele, tetapi justru sangat berguna.
Orang yang membuat atau mengelola website biasanya sudah hafal jalurnya. Kita tahu persis di mana letak halaman harga, layanan, atau kontak.
Pengunjung baru tidak.
Karena itu, berikan sebuah tugas sederhana kepada orang yang tidak terlibat dalam pembuatan website:
“Coba cari harga layanan ini.”
Jangan bantu selama dia mencari. Perhatikan apa yang dilakukan. Di mana dia berhenti? Menu mana yang dibuka? Apakah dia kembali ke homepage? Apakah dia bertanya?
Dari situ, kamu bisa menemukan tanda navigasi website buruk yang mungkin selama ini tidak terlihat dari sisi internal.
Kesimpulan
Website yang sulit digunakan tidak selalu terlihat bermasalah. Bisa saja tampilannya sudah menarik, tetapi pengunjung tetap bingung mencari informasi, terlalu banyak klik, atau akhirnya meninggalkan halaman. Lima tanda tadi bisa menjadi sinyal awal bahwa navigasi dan UI/UX website perlu diperiksa kembali.
Kamu tidak harus langsung melakukan redesign besar-besaran. Mulai dari hal sederhana, seperti mengecek bounce rate, menguji user flow website, memastikan semua link berfungsi, dan meminta orang lain mencoba mencari informasi penting tanpa bantuan.
Untuk pemilik website WordPress, fondasi yang rapi juga bisa membantu. IDwebhost punya solusi Hosting untuk WordPress dengan bonus theme premium yang memiliki struktur menu dan navigasi lebih tertata, sehingga kamu bisa lebih mudah membangun website ramah pengguna.
Jadi, coba mulai dari satu langkah kecil hari ini: cek tiga halaman dengan traffic tertinggi. Dari sana, kamu bisa menemukan bagian mana yang membuat pengunjung tersesat dan memperbaikinya sebelum semakin banyak calon pelanggan pergi.