Sudah Coding, Sekarang Level Up dengan Refactoring Code
Sudah lancar menulis kode dan aplikasi jalan? Itu baru langkah pertama. Tantangan sebenarnya justru muncul setelahnya: merawat kode agar tetap sehat dan mudah dikembangkan. Di sinilah kamu perlu mengenal apa itu refactoring code.
Artikel ini akan membawa kamu memahami refactoring bukan sebagai teori, tapi sebagai skill praktis yang langsung bisa diterapkan untuk meningkatkan kualitas kode dan efisiensi kerja.

Apa Itu Refactoring Code?
Refactoring code adalah proses merapikan dan menyusun ulang struktur kode tanpa mengubah fungsi maupun perilakunya dari sisi pengguna. Tidak ada fitur baru yang ditambahkan, tidak ada output yang diubah. Fokusnya murni pada kualitas internal kode agar lebih mudah dipahami, dirawat, dan dikembangkan.
Kenapa ini penting? Karena dalam dunia pemrograman, kode hampir tidak pernah ditulis sekali lalu selesai. Seiring waktu, kode akan terus disentuh, ditambal karena deadline, diperluas karena kebutuhan bisnis, atau disesuaikan dengan teknologi baru. Tanpa disadari, kondisi ini sering melahirkan dirty code: kode yang masih berjalan, tapi rapuh saat diubah.
Baca Juga: Mengenal JavaScript Beautifier: Manfaat, Cara Kerja & Tools
Situasi makin rumit ketika kamu harus berhadapan dengan legacy code. Entah warisan dari developer sebelumnya atau hasil kerja kita sendiri di masa lalu, kode jenis ini biasanya minim konteks dan sulit dimodifikasi tanpa rasa khawatir.
Di sinilah refactoring berperan. Dengan memperbaiki struktur, penamaan, dan alur logika, refactoring membantu mengembalikan keterbacaan dan ketertiban kode. Hasil akhirnya bukan sekadar kode yang “lebih cantik”, tapi fondasi yang lebih kuat untuk pengembangan web dan aplikasi ke tahap berikutnya, tanpa menambah beban teknis baru.
Baca Juga: Claude AI untuk Coding: Panduan Praktis & Cepat Mahir!
Kenapa Refactoring Code Penting

Banyak developer, di awal kariernya, mengabaikan refactoring. Hasilnya bisa ditebak: proyek yang seharusnya selesai dalam dua hari, molor jadi seminggu karena tiap kali menambah fitur, harus membongkar dan memahami kode lama yang berantakan.
Sementara dengan refactoring code, kamu bisa:
- Membuat kode lebih mudah dibaca
Bukan cuma untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri di masa depan. Kode yang jelas seperti cerita yang mengalir, mengurangi waktu debugging dan on-boarding anggota tim baru. - Meningkatkan maintainability.
Kode yang terstruktur dengan baik lebih mudah diperbaiki dan dikembangkan. Ini investasi waktu di awal untuk menghemat banyak waktu di masa depan. - Memahami sistem secara menyeluruh
Saat melakukan refactoring, kamu dipaksa untuk benar-benar mengerti bagaimana dan mengapa kode itu bekerja. Ini level pemahaman yang berbeda dengan sekadar membuat kode jalan. - Menjaga fokus fungsi
Karena aturan utamanya adalah tidak mengubah perilaku, refactoring menjaga agar proyek tidak melenceng dari tujuan awalnya. Kamu hanya memperbaiki cara kerjanya, bukan apa yang dikerjakannya.
Kapan Kamu Perlu Refactoring Code?
Jangan sampai terjebak memikirkan refactoring sebagai aktivitas sekali waktu yang besar. Justru, yang efektif adalah melakukannya sedikit demi sedikit. Berikut situasi kapan refactoring menjadi sangat krusial:
Refactoring bukan aktivitas musiman. Ada beberapa tanda jelas kapan kamu perlu melakukannya:
- Keterbacaan rendah. Variabel membingungkan, fungsi terlalu panjang, atau struktur tidak konsisten.
- Migrasi teknologi. Saat upgrade framework atau library, refactoring membantu adaptasi lebih mulus.
- Performa mulai bermasalah. Algoritma tidak efisien atau struktur data kurang tepat.
- Code smells. Duplikasi kode, class raksasa, conditional berlapis-lapis.
- Kurang modular. Komponen saling bergantung terlalu erat.
- Persiapan fitur baru. Membersihkan fondasi sebelum menambah lantai.
Penting untuk diingat, lakukan refactoring dengan hati-hati. Pastikan punya test coverage yang memadai dan menggunakan version control (seperti Git) sebagai safety net.
6 Teknik Refactoring Code yang Bisa Langsung Diterapkan
Berikut enam teknik refactoring yang paling sering dipakai developer. Bukan teori muluk, tapi pendekatan yang terbukti membantu menjaga kode tetap sehat saat sistem terus berkembang.
#1. Red-Green-Refactor
Teknik ini sangat efektif kalau kamu terbiasa dengan automated testing. Alurnya sederhana tapi disiplin: tulis test yang gagal (red), buat kode sesingkat mungkin agar test lolos (green), lalu rapikan strukturnya (refactor).
Test berfungsi sebagai safety net. Saat refactoring, kamu tahu persis kalau ada perilaku yang berubah karena test akan langsung protes. Ini alasan kenapa pendekatan ini minim drama, bahkan di codebase besar.
#2. Refactoring by Abstraction
Ketika kamu menemukan logika yang sama muncul di beberapa class atau service, itu sinyal kuat untuk abstraksi. Biasanya kamu perlu menariknya ke interface, abstract class, atau shared service.
Teknik ini bisa mengurangi code duplication dan mempermudah dependency injection, terutama di framework modern.
#3. Composing
Method panjang sering jadi sarang bug tersembunyi. Dengan memecahnya menjadi fungsi-fungsi kecil yang spesifik, alur eksekusi lebih jelas dan unit test jadi lebih fokus. Ini bukan soal gaya, tapi soal kontrol kompleksitas.
#4. Simplifying Methods
Parameter kebanyakan dan conditional bersarang bikin kode sulit diprediksi. Teknik ini mendorong kamu menyederhanakan logika, misalnya dengan early return atau memecah conditional menjadi method terpisah.
#5. Moving Features Between Objects
Secara teknis, ini soal kohesi dan coupling. Kalau sebuah method lebih sering mengakses data dari class lain, kemungkinan besar dia berada di tempat yang salah. Memindahkannya bisa membuat desain lebih masuk akal.
#6. Preparatory Refactoring
Sebelum menambah fitur besar, refactoring ini wajib. Membersihkan dependency lama, mengganti API deprecated, dan merapikan struktur folder akan menghemat banyak waktu debugging di tahap berikutnya.
Tips Praktis dari Lapangan: Hindari Jebakan Umum

- Kolaborasi dengan qa/tester
Ajak mereka sejak awal. Mereka membantu memastikan refactoring tidak merusak fungsionalitas yang ada dari sudut pandang pengguna. - Otomasi adalah sekutu
Gunakan linter (seperti ESLint untuk JavaScript) dan formatter (seperti Prettier) untuk menjaga konsistensi secara otomatis. Tools ini seperti asisten yang selalu mengingatkan tentang standar kode. - Refactor dalam langkah kecil
Jangan sekaligus! Ubah sedikit, tes, commit. Ini meminimalisir risiko dan memudahkan pelacakan jika ada yang salah. - Pisahkan refactoring dan debugging
Jangan campur aduk. Perbaiki bug yang diketahui dulu, baru lakukan refactoring. Jika muncul bug baru saat refactoring, anggap itu sebagai issue terpisah. - Prioritaskan penghapusan duplikasi
Kode yang diduplikasi tiga kali sudah saatnya dijadikan satu fungsi. Ini prinsip DRY (Don’t Repeat Yourself) yang sangat ampuh dalam dunia coding.
Kesimpulan
Refactoring code adalah tanda bahwa kamu sudah melangkah lebih jauh dari sekadar bisa coding. Fokusnya bukan hanya membuat fitur berjalan, tapi memastikan kode tetap rapi, mudah dipahami, dan siap dikembangkan kapan pun dibutuhkan.
Kebiasaan ini berdampak langsung pada efisiensi kerja, kualitas kolaborasi tim, dan keberlanjutan proyek pengembangan web dan aplikasi.
Namun, kode yang sudah tertata tetap membutuhkan lingkungan yang andal. Untuk website personal brand atau proyek pemrograman yang mulai berkembang, VPS Murah dari IDwebhost bisa menjadi langkah logis berikutnya.
Kamu mendapatkan kontrol server yang fleksibel, performa stabil, dan ruang tumbuh yang sejalan dengan kualitas kode yang sudah kamu bangun.