Apa Itu Firefox Forks? Browser Turunan yang Jarang Diketahui
Chrome dan Edge mungkin mendominasi, tapi tahukah kamu ada browser lain yang “bersembunyi” di balik Mozilla Firefox? Di sinilah pertanyaan apa itu Firefox forks jadi menarik. Browser turunan ini menawarkan pendekatan berbeda soal privasi, performa, dan kontrol pengguna, dan sering kali luput dari perhatian.
Apa Itu Firefox Forks?
Untuk memahami Firefox forks, kita perlu mulai dari konsep fork dalam dunia open source. Secara sederhana, fork adalah proses menyalin kode sumber sebuah proyek untuk dikembangkan menjadi jalur baru yang berdiri sendiri.
Kode awalnya memang sama, tetapi seiring waktu, hasil fork bisa berkembang menjadi software yang berbeda, dengan fitur, komunitas, dan arah pengembangan sendiri.
Baca Juga: LibreWolf: Browser Anti-Pelacak Lebih Aman dari Firefox!
Mozilla Firefox sendiri merupakan browser open source. Artinya, siapa pun bisa mempelajari, memodifikasi, dan mengembangkan ulang kodenya selama mengikuti lisensi yang berlaku.
Dari sinilah muncul Firefox forks, yaitu browser turunan Mozilla Firefox yang dibuat dengan tujuan tertentu, misalnya meningkatkan privasi, mengubah tampilan antarmuka, atau mengoptimalkan performa.
Secara teknis, Firefox dipilih sebagai basis karena arsitekturnya modular dan fleksibel. Banyak pengembang merasa lebih mudah “menumpang” di atas mesin Firefox yang sudah matang, lalu menambahkan fitur spesifik tanpa harus membangun browser dari nol.
Baca Juga: 6 Add-ons Terbaik Mozilla Firefox Untuk Web Designer
Lantas, apa perbedaan browser Firefox yang resmi dengan Firefox forks? Mari kita lihat apa tujuan pengembangannya.
Firefox versi resmi dikembangkan Mozilla untuk kebutuhan pengguna umum. Sementara itu, Firefox forks biasanya dibuat oleh komunitas atau tim kecil yang ingin menutup celah tertentu, baik dari sisi teknis, ideologi, maupun pengalaman pengguna, yang menurut mereka belum terakomodasi di versi utama.
Contoh Firefox Forks yang Jarang Diketahui

Berikut beberapa Firefox forks yang menarik untuk dikenali, masing-masing dengan karakter uniknya sendiri.
#1. Fennec
Fennec adalah Firefox fork untuk Android yang tampilannya nyaris identik dengan Firefox resmi. Namun jika diperhatikan, Fennec menghilangkan sponsored shortcuts, mengganti mesin pencari default ke DuckDuckGo, serta menonaktifkan telemetry dan alat pemantauan data. Hasilnya, pengalaman browsing terasa lebih bersih dan lebih mendekati konsep private browser. Kekurangannya, Fennec tidak tersedia di Google Play Store dan hanya bisa diunduh lewat F-Droid.
#2. Waterfox
Waterfox tersedia di Android maupun desktop, dan relatif mudah ditemukan. Browser ini menghapus pelacakan bawaan Firefox serta mengaktifkan Oblivious DNS secara default untuk menyamarkan identitas pengguna. Waterfox juga mendukung Firefox Sync, sehingga kamu bisa menyinkronkan data lintas perangkat. Meski begitu, mesin pencari default-nya bersifat monetized, walau bisa diganti dengan mudah.
#3. Iceraven
Iceraven cenderung lebih “eksperimental”. Pengembangnya bahkan secara terbuka menyatakan tidak memberikan jaminan stabilitas penuh. Namun, Iceraven disukai sebagian pengguna karena dukungan ekstensi yang luas, akses ke about:config, serta integrasi Firefox Sync. Cocok sebagai browser sekunder untuk pengguna yang suka bereksperimen.
#4. Firefox Focus
Meski bukan fork, Firefox Focus layak disebut sebagai varian resmi Firefox. Browser ini dirancang untuk penggunaan cepat dan sementara. Tidak ada tab, riwayat, atau cookie yang disimpan. Semua data otomatis terhapus saat aplikasi ditutup. Cocok jika kamu butuh browsing singkat tanpa jejak.
#5. Zen Browser
Zen adalah Firefox fork desktop yang fokus pada produktivitas. Fitur seperti vertical tabs, workspaces, dan Zen Glance membuatnya cocok untuk multitasking. Namun karena masih berstatus beta, Zen belum ideal untuk pekerjaan krusial dan belum tersedia di platform mobile.
#6. Floorp
Floorp dikenal sebagai salah satu Firefox fork desktop paling fleksibel. Browser ini menawarkan berbagai pilihan desain antarmuka, termasuk dual sidebar yang membantu multitasking. Dari sisi privasi, Floorp mengklaim bebas pelacakan dan rutin mengikuti pembaruan Firefox ESR.
#7. Basilisk
Basilisk tampil dengan desain klasik ala Firefox lama, tetapi tetap mendukung teknologi modern. Keunggulannya ada pada kompatibilitas add-on lama dan dukungan perangkat keras lawas. Basilisk lebih cocok digunakan sebagai browser cadangan daripada browser utama.
#8. LibreWolf
LibreWolf adalah pilihan populer bagi pengguna yang sangat peduli privasi. Browser ini menghapus seluruh telemetry, menyertakan pemblokir iklan (adblocker), serta menyediakan mesin pencari privat secara default. Namun, pengaturan privasi yang ketat kadang membuat beberapa situs tidak berjalan sempurna.
Kenapa Firefox Forks Layak Dicoba di 2026?

Di tengah dominasi browser mainstream dan tren integrasi AI, Firefox forks hadir sebagai alternatif yang lebih fokus pada privasi, efisiensi, dan kontrol penuh di tangan pengguna.
Privasi Lebih Ketat
Banyak Firefox forks hadir dengan konfigurasi privasi yang lebih “keras” sejak awal. Tanpa telemetry, tanpa eksperimen tersembunyi, dan minim pelacakan, browser ini cocok untuk kamu yang menginginkan private browser tanpa harus mengatur ulang banyak setting.
Menghindari “AI Bloat”
Sejak 2025, Firefox mulai mengintegrasikan fitur AI. Tidak semua pengguna menyukai pendekatan ini. Beberapa Firefox forks secara tegas memilih jalur “AI-free”, menjaga browser tetap ringan dan fokus pada fungsi utama: menjelajah web.
Produktivitas dan Kustomisasi
Fork seperti Zen dan Floorp menawarkan fitur yang dianggap terlalu niche oleh Mozilla. Mulai dari tab vertikal, workspace, hingga kustomisasi antarmuka ekstrem, semuanya tersedia tanpa perlu modifikasi rumit.
Kebutuhan Spesifik
Firefox forks juga berguna untuk kebutuhan tertentu, seperti menjalankan beberapa profil sekaligus di Android, atau mendapatkan performa lebih ringan di perangkat lama dengan menghilangkan fitur yang tidak perlu.
Kekurangan Firefox Forks yang Perlu Dipertimbangkan
Meski menarik, Firefox forks bukan tanpa risiko. Update keamanan sering kali datang lebih lambat dibanding Firefox resmi. Tim pengembang yang kecil juga berarti sumber daya terbatas, sehingga ada kemungkinan proyek terbengkalai.
Dari sisi kompatibilitas, beberapa fork mengalami kendala DRM, sehingga layanan streaming tertentu tidak berjalan optimal. Selain itu, kamu juga perlu menaruh kepercayaan ekstra pada pengembang fork, karena mereka memiliki kendali penuh atas perubahan kode.
Fragmentasi ekosistem juga menjadi tantangan. Terlalu banyak fork bisa membingungkan pengguna dan memecah fokus pengembangan yang seharusnya terpusat.
Kesimpulan
Firefox forks adalah alternatif menarik bagi kamu yang ingin pengalaman browsing berbeda dari arus utama. Sebagai browser turunan Mozilla Firefox, mereka menawarkan privasi lebih ketat, kustomisasi mendalam, dan fitur unik yang tidak selalu tersedia di Firefox resmi.
Namun, penting untuk menimbang risiko keamanan dan stabilitas sebelum menjadikannya browser utama.
Jika kamu berencana membangun website personal, blog, atau portofolio online, pilihan browser hanyalah langkah awal.
Agar website kamu bisa diakses cepat, stabil, dan aman, pastikan juga fondasinya kuat. Hosting Murah dari IDwebhost hadir sebagai solusi praktis untuk kamu yang ingin mulai online tanpa ribet, performa tetap optimal, dan dukungan teknis yang siap membantu kapanpun dibutuhkan.
Saatnya jelajah web dan bangun website-mu dengan lebih percaya diri bersama IDwebhost.